PDF 1-1 BAB 1 PENDAHULUAN -BAB 1 PENDAHULUAN 1 1 Latar Belakang Masalah Pada era saat - BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kehidupan manusia senantiasa berupaya meningkatkan kualitas hidupnya.
Wait Loading...


PDF :1 PDF :2 PDF :3 PDF :4 PDF :5 PDF :6


Like and share and download

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kehidupan manusia senantiasa berupaya meningkatkan kualitas hidupnya.

BAB 1 PENDAHULUAN 1 1 Latar Belakang Masalah Pada era saat

BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehidupan manusia senantiasa berupaya meningkatkan kualitas hidupnya. Peningkatan kualitas hidup manusia, tidak dapat diukur dari sudut pandang ekonomis saja, tapi

BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehidupan manusia senantiasa berupaya meningkatkan kualitas hidupnya. Peningkatan kualitas hidup manusia, tidak dapat diukur dari sudut pandang ekonomis saja, tapi 1 1 BAB 1 PENDAHULUAN Bab Pendahuluan ini berisi latar belakang dari studi kasus yang diangkat, identifikasi masalah, tujuan dan lingkup masalah serta? BAB 1 PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan tentang latar belakang dalam memilih topik pembahasan, ruang lingkup dalam pembahasan, manfaat dan tujuan?

Related PDF

1-1 BAB 1 PENDAHULUAN Bab Pendahuluan ini berisi latar

1 1 BAB 1 PENDAHULUAN Bab Pendahuluan ini berisi latar belakang dari studi kasus yang diangkat, identifikasi masalah, tujuan dan lingkup masalah serta 
PDF

1-1 BAB 1 PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan tentang latar

BAB 1 PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan tentang latar belakang dalam memilih topik pembahasan, ruang lingkup dalam pembahasan, manfaat dan tujuan 
PDF

1 BAB 1 PENDAHULUAN A PENDAHULUAN 1 Latar Belakang

A PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Masalah Pendidikan anak usia dini ( PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang 
PDF

BAB I PENDAHULUAN 1 1 Latar Belakang Kepemimpinan

BAB I PENDAHULUAN 1 1 Latar Belakang Kepemimpinan merupakan tulang punggung pengembangan organisasi, karena tanpa kepemimpinan yang baik 
PDF

BAB 1 PENDAHULUAN A Latar Belakang Masalah Pendidikan

1 BAB 1 PENDAHULUAN A Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan dan kelangsungan hidup 
PDF

BAB 1 PENDAHULUAN 1 1 Latar Belakang Masalah Pada era saat

1 BAB 1 PENDAHULUAN 1 1 Latar Belakang Masalah Pada era saat ini manusia sangat butuh akan informasi, informasi bagaikan suatu kebutuhan yang  
PDF

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI - thesisbinusacid

5 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Persediaan 2.1.1 Pengertian Persediaan Persediaan atau stock merupakan salah satu aspek penting bagi perusahaan yang menjual barang dagangan atau perusahaan pengolahan. Stock

library binus ac id eColls eThesisdoc Bab2 2012 2 01190 BAB 2 LANDASAN TEORI 2 1 Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan Dari penelitian terdahulu, penulis tidak menemukan sir stikom

Petunjuk Pemakaian AMIO untuk JURI

bupati sumbawa - WordPresscom

Petunjuk Pemakaian AMIO untuk JURI Berikut ini adalah tahapan-tahapan yang perlu dilakukan oleh Juri dalam rangka melakukan penilaian terhadap karya-karya pada kegiatan Lomba Karya Inovasi yang diselenggarakan

PDF aplikasi manajemen inovasi online Lomba Karya Inovasi PLNinovasipln co id data petunjuk manual petunjuk juri pdf PDF COVER cd Inovasi PLNinovasipln co id data direktori inovasi dir2012 pdf PDF Tugas Akhir BPPSDMK Kementerian Kesehatanbppsdmk kemkes go id

Standar Dokumen Pengadaan

Standar Dokumen Pengadaan - Kemendag

Republik Indonesia Pengadaan Barang -Metode Pelelangan Sederhana dengan Pascakualifikasi Metode Satu Sampul Sistem Gugur (Kontrak Lump Sum) Lembaga Kebijakan /Jasa Pemerintah D O K U M E N P E N G A D

PDF Standar Dokumen Pengadaan Dokumen Pengadaan LKPP lkpp go id 11012011192526Jasa Konsultansi Badan Usaha Prakualifikasi Satu Sampul pdf PDF Standar Dokumen Pengadaan Standar Dokumen Pengadaan LKPP lkpp go id 11012011192526SBD JASA LAINNYA Pascakualifikasi

http://www.karyailmiah.polnes.ac.id ANALISIS KINERJA KEUANGAN PDAM TIRTA KENCANA SAMARINDA PERIODE 006-00 - BERDASARKAN SK MENDAGRI No 7 Th 999 Eko Adi Widyanto (Staf Pengajar Jurusan AKuntansi Politeknik

karyailmiah polnes ac id images Download PDF Arsip Jurnal penilaian atas kinerja PDAM meliputi aspek keuangan, aspek operasional, daan aspek administrasi (SK Mendagri No 47 Tahun 1999 Pasal 2 ayat 1) Penilaian kinerja dari aspek keuangan, Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Kencana Samarinda melakukan pengukuran dengan analisis rasio keuangan

LAPORAN MAGANG EVALUASI PENGENDALIAN INTERNAL TERHADAP SIKLUS PENJUALAN JASA PADA PT.SULAWESI JAYA RAYA OLEH: RONALD THEODORA LOLO 3203012239 JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS BISNIS UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA

PDF laporan praktik kerja lapangan evaluasi pengendalian internal repository unair ac id 54060 13 FV A 100 16 20Rah 20e min pdf PDF laporan praktik kerja lapangan evaluasi pengendalian intern atas repository unair ac id 54098 13 FV A 104 16 20Ahm 20e min pdf

4.12 SYARAT DAN KONDISI YANG MENGATUR VERIFIKASI LEGALITAS KAYU

1 salinan peraturan menteri negara lingkungan hidup nomor 12

4.12 SRAT DAN KONDISI NG MENGATUR VERIFIKASI LEGALITAS KAYU 1. Syarat dan Kondisi ini mengatur Skema Verifikasi Legalitas Kayu (selanjutnya disebut sebagai Skema ) yang diselenggarakan oleh TROPICAL RAINFOREST

PDF 1 POLIS STANDAR ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR aig co id content dam aig psakbi wording 2010 pdf PDF polis standar BCAinsurance bcainsurance co id 5a715287c65d3 psakbi feb 2017 sekarang

RGS Mitra 1 of 7 Lampiran UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2001 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA CIMAHI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dengan

PDF rgs mitra 1 of 7 biro sdm – polda kepribirosdmkepri PP no 20 tahun 2001 ttg PEMBINAAN DAN PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHA PDF rgs mitra 1 of 18 aseanasean I24 Kep Menteri TKRI No KEP204MEN1999 Th 1999

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2001 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA BAU-BAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dengan perkembangan dan kemajuan

Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 13 Tenaga kerja asing adalah warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja Undang Undang Dasar Negera Republik Indonesia tahun 1945; 13 Tenaga kerja asing adalah warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja ?

PENETAPAN BAKAL PASANGAN CALON PERSEORANGAN YANG MEMENUHI

BENTUK DAN JENIS FORMULIR PENCALONAN PASANGAN CALON BUPATI

KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN BULELENG KEPUTUSAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN BULELENG Nomor : 75/Kpts/KPU-Kab-016.433727/TAHUN 2016 TENTANG PENETAPAN BAKAL PASANGAN CALON PERSEORANGAN YANG MEMENUHI

ppkjatiwaras files wordpress 2012 08 14 Tim Pelaksana kampanye adalah tim kampanye yang dibentuk oleh bakal pasangan calon bersama sama partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan atau oleh bakal pasangan calon perseorangan yang susunan nama namanya didaftarkan ke KPU Provinsi Jawa Barat bersamaan dengan pendaftaran bakal

Home back515516517 518519520 Next

BAB 1 : PENDAHULUAN 1

Peningkatan kualitas hidup manusia, tidak dapat diukur dari sudut pandang ekonomis saja, tapi juga ditentukan oleh derajat kesehatan manusia itu sendiri

Derajat kesehatan manusia sangat ditentukan oleh kualitas lingkungan hidupnya

Sementara itu, kualitas lingkungan yang baik dan mampu menopang tatanan kehidupan manusia antar generasi mutlak membutuhkan pengelolaan terhadap komponen lingkungan secara arif dan bijaksana

(1) Upaya pengelolaan lingkungan hidup merupakan salah satu komponen dalam konsep pembangunan berkelanjutan

Soemarwoto, O (2001) menyatakan bahwa tidaklah mungkin manusia bisa membiarkan atau tidak mengganggu lingkungan dalam aktivitas hidupnya, sehingga yang bisa dilakukan oleh manusia dalam konsep pembangunan berkelanjutan ialah mengelola lingkungan

Salah satu makna dalam mengelola lingkungan ialah melestarikan fungsi lingkungan untuk peningkatan kualitas lingkungan yang lebih baik dan mampu menopang tatanan prikehidupan manusia kederajat yang lebih tinggi

Pernyataan ini selaras dengan apa yang diamanatkan oleh Undang-undang No 32 Tahun 2009 Pasal 1 Ayat 6 yang menyatakan bahwa yang dilestarikan itu ialah fungsi lingkungan, bukan membiarkan komponen lingkungan seperti apa adanya

(2) Terkait dengan fungsi lingkungan, dalam konteks derajat kesehatan manusia, Rumah Sakit merupakan salah satu wadah dan fasilitas yang memegang peran untuk itu

Fungsi Rumah Sakit utamanya ialah untuk meningkatkan derajat kesehatan manusia

Apabila di Rumah Sakit tersebut manusia gagal mengelola limbahnya maka apa yang

menjadi tujuan manusia tidak akan tercapai

Dengan kata lain, manusia mesti mengelola limbah yang ada di Rumah Sakit

Kalau tidak dikelola justru yang terjadi ialah sebaliknya, dimana Rumah Sakit akan menjadi lingkungan yang akan menimbulkan penyakit bagi manusia

(3) Idealnya menurut Nukman (2000) Rumah Sakit adalah sebagai suatu unit pelayanan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan, memantapkan, dan mempertahankan jangkauan dan pemerataan serta mutu pelayanan kesehatan rujukan menuju peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal

Salah satu sasaran yang hendak dicapai adalah terwujudnya Rumah Sakit sebagai penggerak masyarakat agar mampu melindungi, memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat

Rumah Sakit sebagai suatu institusi yang bersifat sosioekonomis mempunyai fungsi dan tugas memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara paripurna, dimana Rumah Sakit juga merupakan bagian integral dari seluruh sistem pelayanan kesehatan

(4) Faktanya bahwa dalam setiap aktivitas dan kegiatan pelayanan kesehatan tersebut, Rumah Sakit menghasilkan produk samping dalam bentuk barang buangan atau limbah, salah satunya adalah sampah medis padat Rumah Sakit

Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan Rumah Sakit tidak saja memberikan dampak yang positif bagi masyarakat sekitarnya, tetapi juga mempunyai dampak negatif berupa sampah medis akibat dari proses kegiatannya

Pernyataan penulis ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Nukman (2000) dimana sampah medis yang dibuang tanpa pengolahan yang benar dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan secara menyeluruh dapat berisiko terjadinya penularan penyakit dari pasien ke pekerja, dari

pasien ke pasien, dari pekerja ke pasien, maupun kepada masyarakat pengunjung Rumah Sakit

(4) Sampah medis padat Rumah Sakit dapat dianggap sebagai mata rantai penyebaran penyakit menular, dimana sampah medis tersebut ada yang tergolong sampah medis padat infeksius dan sampah medis padat yang mengandung bahan berbahaya atau beracun yang dapat menimbulkan cidera atau gangguan kesehatan dan berpotensi mencemari lingkungan

Besarnya permasalahan yang dapat ditimbulkan dari sampah medis padat maka dibutuhkan suatu pengelolaan sampah medis padat

Permasalahan sampah medis padat merupakan suatu masalah yang kompleks karena berdampak terhadap kesehatan, pelestarian lingkungan, sosial ekonomi dan budaya sehingga perlu adanya penanganan sampah medis padat (limbah) secara terpadu yang tepat dan benar

(5) Sampah medis yang tidak dikelola dengan benar akan menimbulkan dampak terhadap kesehatan dan lingkungan

Limbah Rumah Sakit bersifat berbahaya bagi kesehatan, karena mengandung zat radio aktif dan zat infeksius

Pengelolaan limbah dengan pembakaran menyebabkan gangguan pernafasan

Terjadinya gangguan pada saluran pernafasan ini bisa disebabkan karena gas SO2 ataupun CO2 dari proses pembakaran tersebut

Sampah medis yang dibuang ke sungai atau selokan akan tercemar dan mengakibatkan penyumbatan dan pendangkalan sehingga dapat menimbulkan banjir

Sedangkan limbah yang dibuang di tepi jalan selain dapat merusak jalan juga akan dapat mengganggu kelancaran lalu lintas dan limbah yang dibakar akan mengakibatkan pencemaran udara, selain itu tanah juga tercemar dari limbah yang tidak bisa membusuk dan zat-zat kimia lain yang terkandung didalam limbah seperti berbahan

  • plastik dan radio aktif
  • (5) Berdasarkan hasil kajian pada 100 buah Rumah Sakit di Jawa dan Bali menunjukkan bahwa rata-rata produksi limbah sebesar 3,2 kg/tempat tidur/hari dan angka ini tidak jauh berbeda dengan produksi limbah Rumah Sakit di Negara Amerika Latin yaitu sebesar 3,6% kg/tempat tidur/hari (Managing Medical Wastes in Developping Countries, WHO, 1994)

    Kajian yang sama diperoleh data bahwa produksi limbah cair sebesar 416,8 liter/tempat tidur/hari

    Analisis lebih jauh menunjukkan bahwa produksi limbah padat berupa limbah domestik sebesar 76,8% dan berupa limbah infeksius sebesar 23,2% dari gambaran tersebut dapat dibayangkan betapa besar potensi Rumah Sakit untuk mencemari lingkungan

    (5) Langkah-langkah pengelolaan limbah medis padat terdiri dari beberapa tahapan, yaitu pelaksanaan pra pengelolaan, penampungan, pemeliharaan, pengangkutan, pembuangan dan pemusnahan

    Pada tahapan pra pengelolaan dan penampungan biasanya tersedia tempat penampungan yang terpisah antara sampah medis dan sampah non medis, dengan tempat penampungan yang terpisah dapat meminimalisir sampah yang akan diolah

    Tahapan pemeliharaan dilakukan pada tempat penampungan dan tempat pembuangan sementara agar bersih dan tidak berserakan serta tidak menjadi tempat penularan penyakit

    Pada tahapan pengangkutan dilakukan dengan 2 pengangkutan yaitu internal dan eksternal, pengangkutan yang pertama yaitu pengangkutan internal merupakan pengangkutan kembali ke titik awal penampungan dan pengangkutan eksternal pengangkutan ke tempat pembuangan dan pemusnahan

    Pemusnahan sampah medis biasanya dilakukan secara pembakaran / insinerasi

    Menurut penelitian yang dilakukan oleh Yudha (2012) mengatakan bahwa Pelaksanaan pengelolaan sampah medis Puskesmas di Kabupaten Jember sesuai dengan syarat-syarat pengelolaan sampah medis yang ditetapkan oleh Depkes RI, akan tetapi ada beberapa hal yang kurang terpenuhi dengan sempurna antara lain belum terdapatnya logo sampah medis pada tempat sampah medis pada sebagian Puskesmas di Kabupaten Jember, tidak semua Puskesmas di Kabupaten Jember menggunakan alat angkut sampah medis berupa gerobak atau troli, penggunaan kendaraan pengangkut yang digunakan untuk mengangkut sampah medis adalah ambulance pada sebagian Puskesmas di Kabupaten Jember

    (6) RSUD Solok Selatan merupakan Rumah Sakit tipe C yang harus mengelola sampah medis padat secara tepat dan benar

    Rumah Sakit ini memiliki 110 ruang terdiri dari ruang kantor, poliklinik, apotik, laboratorium, rontgen, UGD, ruang kamar tidur dan ICU

    Dengan kapasitas dan kompetensi seperti itu, memungkinkan sekali dalam setiap kegiatan pelayanan dan aktivitas yang ada di dalam lingkungan Rumah Sakit akan menghasilkan sampah medis padat yang relatif besar

    Hasil survei pendahuluan yang penulis lakukan di RSUD Solok Selatan, didapat salah satu fakta bahwa sumber sampah medis padat yang ada ialah dari unit pelayanan berupa unit pelayanan rawat inap

    Besarnya timbulan sampah padat yang dihasilkan dari Rumah Sakit ini ialah 80 kg/hari, dimana 30 kg adalah berupa sampah medis padat dan 50 kg sampah non medis

    Kondisi sampah medis padat di RSUD Solok Selatan masih belum terkelola dengan baik

    Pada tempat penampungan sudah terpisah antara sampah medis dan sampah non medis tetapi tidak semua memiliki label yang jelas sehingga tenaga medis,

    petugas dan pengunjung yang tidak mengetahui mana tempat penampungan sampah medis dan sampah non medis membuang sampah secara sembarangan

    Pada tahap pemeliharaan tempat sampah di RSUD Solok Selatan belum terkelola dikarenakan masih banyak air limbah/leacheat yang menetes di dekat tempat penampungan dan tempat sampah juga berbau karena tidak rutin dibersihkan

    Pada tahap pengangkutan, petugas tidak menggunakan jalur khusus untuk pengangkutan sampah ke TPS

    Pada tahap pemusnahan dilakukan dengan menggunakan pembakaran/insinerasi tetapi pembakaran dilakukan 2 kali 1 minggu yang sebaiknya dilakukan 1 kali 2 hari dikarenakan sampah yang terkumpul di tempat pembakaran akan merusak pembakaran sehingga pembakaran menjadi tidak sempurna

    Sistim pengelolaan sampah medis padat juga dipengaruhi oleh tenaga, sarana, dan dana

    Pada RSUD Solok Selatan tenaga yang dibutuhkan sudah cukup tetapi sarana dan dana belum memadai

    Hal ini dapat terlihat dari tempat penampungan sampah yang masih belum baik dan dari pembakaran sampah medis yang tidak dilakukan setiap hari dikarenakan keterbatasan dana untuk biaya operasional incinerator

    Kondisi ini secara visual telah mengindikasikan bahwa pengelolaan terhadap sampah medis padat pada RSUD Solok Selatan membutuhkan kajian yang lebih akurat untuk dapat kemudian menentukan upaya pengelolaan yang ideal

    Tentu saja pengelolaan yang dimaksud meliputi manajemen administratif dan teknis operasional

    Karena memang dua komponen inilah yang merupakan akar permasalahan yang sesungguhnya

    Berdasarkan permasalahan diatas, penulis ingin melakukan penelitian yang berjudul Analisis pengelolaan sampah medis padat di RSUD Solok Selatan

    Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan solusi dari permasalahan pengelolaan sampah medis padat di Rumah Sakit secara umum dan di RSUD Solok Selatan khususnya

    Menganalisis aspek input (kebijakan, tenaga, dana, sarana dan prasarana, dan jumlah timbulan sampah) dalam pengelolaan sampah medis padat di RSUD Solok Selatan tahun b

    Menganalisis aspek proses (pelaksanaan pra pengelolaan, penampungan, pemeliharaan, pengangkutan, pembuangan dan pemusnahan) dalam pengelolaan sampah medis padat di RSUD Solok Selatan tahun c

    Menganalisis aspek output (jumlah sampah yang terkelola dan keberadaan vektor penyakit di TPS) dalam pengelolaan sampah medis padat di RSUD Solok Selatan tahun 2016

    Penelitian ini dapat memberikan informasi atau masukan tentang hubungan perilaku petugas Rumah Sakit terhadap sistem pengelolaan sampah medis padat dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat

    Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan dan pertimbangan dalam membuat kebijakan

    Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi data dasar bagi penelitian selanjutnya Peneliti d

    Melalui penelitian ini peneliti dapat menerapkan dan memanfaatkan ilmu yang didapat selama pendidikan dan menambah pengetahuan dan pengalaman dalam membuat penelitian ilmiah

    Menambah pengetahuan peneliti tentang hubungan perilaku petugas Rumah Sakit terhadap sistem pengelolaan sampah medis padat